tampung tampung
rumah nenek saya yang di desa itu, kalo ada penampung air ujannya (rain water barrels). terbuat dari semen adonan kapur dan air. mungkin sedikit semen juga. jaman dulu, karena kalo musim kemarau air sulit didapat, orang di rumah nenek sering memanfaatkan air itu untuk kebutuhan sehari-hari. paling tidak untuk nyuci baju dan piring. Read more »
milis
Tren dalam berbisnis, rada bergeser sekarang. Merambah dunia onlen sudah bukan barang baru lagi (mailing leads). Dalam dunia bisnis, seringkali dibutuhkan data-data pasar, mulai dari konsumen, produsen, hingga kompetitornya juga. Read more »
sosnet
Ini baru dirilis semacam social networking baru. Namanya Acobay. Menurut si empunya, Acobay ini bertujuan mempertemukan satu sama lain dari mobil yang dikendarai, tempat-tempat yang didatangi, film yang disuka, game yang dimainkan, dll. Rada lieur juga sih berkunjung ke situsnya. Saya nyoba ke movie network secara saya suka banget nonton. Ada banyak pilihan film di situ.
Read more »
Pamit
Dengan ini, saya memberitahukan bahwa blog yang ini dikukuti dan karenanya saya akan pindah ke sini.
Demikian pemberitahuan ini saya buat. Ada kurangnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalam…
*halah
Ya begitulah. Akhirnya saya pindah. Tidak ada alasan khusus. Kebetulan juga ada sponsor tunggal, makanya saya pindah rumah. Semoga selain jadi sponsor tunggal, beliau juga berkenan jadi sponsor tetap. Hehe…
Ternyata, pindahan yang beginian itu agak ribet juga. Saya yang buta beginian, jadi musti belajar pelan-pelan buat ngerti. Maklum, kalau di wp.com kan gampang,,tinggal pakai doank. Kalau pake rumah sendiri jadi musti ngatur ini itu satu per satu. Untungnya ada om gugel yang senantiasa mau membantu.
Sampai saat ini sih ada beberapa hal yang mungkin cupu yang saya ndak ngerti-ngerti juga. Ya ndak papa deh… Pelan-pelan ntar juga,,,tetep ndak ngerti.
Jadi, selamat tinggal kontrakan. Selamat datang di rumah baru. Muhun maap kalau selama ini ada banyak salah dalam postingan atau komentar atau ngebales komentar.. See ya there!!
Budaya Balas Budi: Solusi Pengentasan Kemiskinan
Benjamin Franklin pernah menulis sebuah surat. Ketika itu, ia meminjamkan sejumlah uang kepada Benjamin Webb dan melalui surat itu ia berpesan pada Webb. Suatu saat nanti, bila Webb bertemu dengan orang yang senasib dengannya, kembalikan uang Franklin kepada orang tersebut. Dengan harapan si orang senasib tersebut akan meneruskannya pada orang lain. Ide yang sangat sederhana dari seorang Franklin yang konon tidak kaya tapi ingin berbuat baik pada banyak orang. Sama seperti kita kan. Belum kaya tapi ingin banyak membantu orang lain
.
Indonesia dan Kemiskinan
BPS mencatat jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta [maaf, ini data terbaru yang bisa saya peroleh]. Lupakan sejenak soal kontroversi jumlah warga miskin. Yang ingin saya garis bawah di sini adalah sekitar 17% warga Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Belum termasuk yang tidak terdata atau sebenarnya miskin tapi hanya karena memiliki satu [satunya] motor sebagai modal usaha maka ia tidak dianggap miskin lagi. Angka yang ingin kita bantu tapi kita belum mampu, karena kita yang belum kaya ini.
Saya, Alhamdulillah, masih sangat beruntung. Setidaknya bisa konek internet sehari tiga kali. Tapi coba kita tengok saudara-saudara kita yang masih belum beruntung. Kepala sekolah yang masih harus merangkap sebagai pemulung, kisah bayi yang tertahan di RS karena orang tua tidak mampu menebus biaya persalinan, gizi buruk, anak yang harus putus sekolah karena tidak mampu membayar SPP, dan masih banyak lagi.
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Secara dasar negara memang begitu. Namun, dengan kesenjangan yang begitu besar antara kaya dan miskin, pembangunan yang belum merata (meski sudah lebih baik), dan banyaknya masalah yang dihadapi pemerintah baik dari dalam negeri maupun dari dunia global, upaya penegakan dasar negara itu sepertinya masih jauh dari terwujud. Karenanya, kenapa tidak kita sendiri yang membantu pemerintah untuk mengurangi angka 17% ini?
Mari Balas Budi
Konsepnya sederhana. Mencatut apa yang telah dilakukan Franklin pada Webb. Saya, Anda, Mereka, Kita, siapapun yang telah pernah merasa dibantu oleh seseorang atau sesuatu, mari kita balas lagi kebaikan mereka dengan membayarnya pada orang lain. Orang yang kita lihat kurang mampu. Kita lakukan ini pada tiga orang. Dan minta mereka membalasnya nanti jika mereka sudah cukup mampu, kepada orang lain yang menurut mereka juga belum beruntung. Read more »
perihal kita.dulu.
kenapa kamu begitu egois. itu tanyamu dulu. aku hanya diam. bukan apa. dalam hatikupun menanyakan hal yang sama. mengapa kamu begitu egois sayangku. tapi lidahku kelu. aku hanya mampu berucap. maaf. dan sesudah itu kau diamkan aku. akupun enggan untuk memulai lebih dulu.
tentu kamu ingat kisah kita dulu. saat kita begitu akrab. aku mengeluh kau tertawa. kau merasa marah aku mampu meredamnya. tentu kamu juga ingat. saat kita saling kasih. makan malam pertama kita dulu. aku kira kita akan ke warung lesehan favoritku. ternyata kamu mengajakku ke restoran mahal. penuh peluh kamu dendangkan lagu untukku. kamu bacakan syairsyair cinta bagiku. kau petik gitar yang ternyata hasil gadai kamera kesayanganmu. hanya untukku sayangku. hingga kemudian aku tidak bisa tidak menerimamu.
Read more »
agak aneh sedikit
sapi jaman sekarang….

tiangnya nutupin jalan…

model rumah baru…
.jpg)
bahan bakar yang selalu dapat diperbaharui…

another kendaraan roda tiga…

sayang anak…injak anak….

iya iya…percaya ko mobilnya cukup ramping

daging manusia berbahaya bagi hewan!!

ngajari ato mbebayani (membahayakan) nek kayak gt namanya ya?

ugh..jadi pingin pesen yang model TMII

seni ngaspal jalan

courtesy gambar thepurpleturkey.blogspot.com
anak dan peradaban
meminjam perkataan Dorothy Law Nolte.
jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.
tiba-tiba terlintas saja dalam pikiran. bagaimana dengan anak-anak gaza itu? atau anak manapunlah yang mereka hidup di lingkungan perang. anak aceh. anak timor timur. anak vietnam. anak manapun. mereka berhadapan dengan permusuhan. dan jauh dari terwujudnya toleransi. jika boleh memilih, mereka mungkin akan meminta dilahirkan di tengah keluarga yang harmonis dan bahagia. di tengah masyarakat yang damai sentausa. di tengah kehidupan bernegara yang serba tertib terjaga. ah…
mengamini perkataan Nolte, teori tabularasa menyebut anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin (entah mengapa musti berselaput lilin). mereka masih polos, putih, dan bersih. mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya.
teringat film ‘Pay It Forward’. kisah tentang seorang anak, yang bermula dari mendapat tugas sekolah dari gurunya, ingin melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. maka ia mengusulkan satu program yang ia beri nama ‘pay it forward’. berbuat kebaikan yang bagi si pelaku cukup besar dan sulit kepada tiga orang. tiga orang ini kemudian meneruskan pada tiga orang lainnya. begitu seterusnya. ide yang nampak sederhana tapi ternyata memang berhasil. mungkinkah program demikian berjalan di indonesia?
kembali ke masalah dua teori di atas. soal perang yang sedang dan sudah terjadi, saya pribadi memilih untuk mengimani. karena saya yakin semua yang terjadi ini sudah atas ijin Tuhan. justru terbersit dambaan dalam hati saya untuk membangun peradaban yang baik bagi generasi mendatang. dengan mencontoh cara ‘pay it forward,’ mungkin. semata hanya untuk menciptakan lingkungan yang jauh dari cemoohan, dan penuh akan toleransi, dorongan, pujian, kasih sayang serta persahabatan. melukis kata perdamaian besar-besar di dalamnya. agar emosi dan egoisme terpatri jauh dari diri anak-anak. anak-anak manapun.
*habis menghadiri akikahan seorang anak yang bukan anak saya dan terharu dengan doa yang diucap bapaknya
entrepreneur
Pengusaha atau entrepreneur adalah seseorang yang mau dan berani mengambil risiko memanfaatkan kesempatan yang ia miliki untuk memperoleh keuntungan tertentu. Menurut saya, inilah cara paling tepat untuk menjadi kaya. Seorang karyawan, pendapatannya akan sangat tergantung pada berapa banyak perusahaan tempatnya bekerja memberikan gaji. Jika dirasa kurang, memang ia bisa mencari tambahan dengan bekerja sampingan. Read more »
me-too strategy
China telah menegaskan dirinya sebagai king of counterfeiters dengan cara membangun mall baru khusus barang-barang bermerk palsu. Uhm, merk palsu? Saya rasa kurang tepat disebut demikian karena merk-nya menurut saya sih asli. Asli dia yang buat. Hanya, memang [sengaja] mirip dengan merk lain yang lebih terkenal.
Mall yang dimaksud berada di Nanjing, timur Shanghai. Di sana katanya terdapat tenant yang menggunakan merk-merk serupa tapi tak sama dengan merk yang lebih dulu tenar. Seperti Mc Dnoald’s, Bucksstar Coffee, Pizza Huh, A&G, Dama, Adidos, Farrari, dan KLG.








Selain pernah saya unggah di sini, saya menemukan lagi beberapa merk mirip.



Saya tidak tahu bagaimana hukum berlaku untuk praktik bisnis macam ini.
Yang saya tahu, dulu (dan hingga sekarang pun ada), di Indonesia beberapa kali kasus serupa terjadi. ‘Perang’ antara Indofood dan Wingsfood untuk produk mie instan mereka, Pop Ice-Top Ice, ExtraJoss-EnerJoss, dsb. Di jogja sendiri ada yang namanya KuFC (
). Nah, strategi yang mereka lakukan ini disebut ‘me-too strategy’.
Alert: Penjelasan di bawah hanya untuk pemula. Untuk yang sudah ekspert mohon mengoreksi jika ada yang salah dan menambahi jika ada yang kurang 
Sudah banyak yang tahu bahwa memasuki pasar dengan mengusung merk benar-benar baru adalah suatu hal yang sulit. Proses edukasi pasarnya membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Karenanya, banyak perusahaan yang kemudian memilih menggunakan merk yang mirip dengan yang sudah ada dengan harapan
akan lebih mudah dikenal. Ya iyalah, merknya aja mirip. Kalau pasang iklan di tipi pun akan banyak yang lebih mudah mengenali karena bisa diasosiasikan dengan merk yang lebih dulu terkenal. Apalagi kalau tipografi mereka mirip. ![]()
menjaring konsumen yang ‘terkecoh’. Kadang konsumen tidak teliti dalam melihat merk. Asal bentuk logo dan tulisan sama, sering dianggap itu merk yang terkenal. Nah, di sini sih kita sebagai konsumen yang harus hati-hati jika ndak ingin merasa tertipu. Kalau beli ya di gerai resmi, lihat dengan teliti produknya. ![]()
atau bahkan sengaja menjadi ceruk bagi konsumen yang menginginkan gengsi. Seperti kita tahu, merk-merk yang biasa ditiru adalah merk mahal yang tidak semua kalangan bisa memperolehnya. Seperti KFC, misalnya. Untuk regular french friesnya ada yang seharga IDR 5,000. Sementara kalau kita makan lotek Bu Bagyo (lotek ini uenakk bgt!!), dengan porsi yang lebih buanyak harganya hanya Rp 6,500, sudah termasuk minum. Tapi apa iya orang mau tiap hari makan lotek? Pasti kita ingin ada variasi dan sesekali makan-makanan yang dimakan ‘orang kaya’. Nah, disitulah muncul ceruk pasar yang menurut beberapa kalangan potensial. Maka dibuatlah KuFC. ![]()
Lalu, bagaimana nasib perusahaan yang tertiru merknya? Kalau dulu di kelas pemasaran dikatakan bahwa selama market share-nya tidak tergerogoti terlalu banyak, perusahaan yang merk-nya ditiru seharusnya tidak perlu khawatir. Karena jika ia menuntut, justru merk duplikatnya akan makin terkenal dan ia nampak rapuh di mata para konsumen.
Untuk saya pribadi, saya enggan membangun merk aspal (asli tapi palsu) karena menurut saya usaha dengan cara seperti itu berada di area abu-abu. ![]()
Setiap orang yang memiliki usaha pasti menginginkan usahanya berkembang. Jika punya toko kelontong kecil ya pasti ingin toko itu kemudian menjadi semakin besar dan semakin luas. Jika memulai usaha dengan merk aspal, harus siap-siap dituntut oleh perusahaan besar yang ditiru merknya. Biaya yang akan dikeluarkan tentulah tidak sedikit. Jadi, keinginan membesarkan usaha akan terhalang kekhawatiran perusahaan besar akan menuntut. Ini menurut saya lho, yang masih mahasiswa dan belum pernah punya usaha sendiri yang besar. Di samping itu, saya pun jika suatu saat nanti punya usaha ndak suka kalau ada yang meniru dengan merk yang mirip. ![]()
Courtesy picture: mirror.co.uk
Comments(4)
Comments(8)
Comments(1)


