05.15.08

Bebe-em Lagi

Posted in Manajemen, Miscellaneous, Opini at 10:02 am by wennyaulia

Beberapa hari belakangan, semenjak rame-ramenya rencana pemerintah menaikkan harga BBM sebagai tindakan penyelamatan terhadap APBN, muncul banyak diskusi mengenai ini di berbagai stasiun televisi. Mulai dari diskusi yang terarah dan berbicara satu per satu, hingga diskusi macam debat kusir yang bikin puyeng orang yang menyaksikan.

Dalam artikelnya, Kottak mengatakan bahwa terdapat tiga perilaku berbeda yang akan ditunjukkan oleh ilmuwan sosial ketika terjadi suatu peristiwa sosial:
1. ivory tower view
berkonsentrasi pada penelitian, publikasi, dan tidak membuat rekomendasi kebijakan
2. schizoid view
membantu menyelesaikan masalah, tetapi tidak membuat atau mengkritisi kebijakan. Dalam hal ini, personal “value judgement” musti dipisah dengan hasil investigasi ilmiah
3. advocacy
aktif membantu mengidentifikasi kebutuhan untuk berubah, bekerja sama mendesain perubahan yang sesuai untuk masyarakat, dan melindungi masyarakat dari skema perkembangan yang membahayakan.

Menurut pak ganteng dosen saya, mahasiswa dapat dianggap sebagai ilmuwan sosial karena mahasiswa mempelajari situasi sosial yang terjadi dalam perkuliahannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana seharusnya mahasiswa menyikapi rencana kenaikan harga BBM ini. Apakah diam saja karena seperti saya yang malas ikut demo ini memang belum bisa berbuat sesuatu yang signifikan, advokasi dengan berbagai cara melancarkan protes, atau apa?

Di situlah dilema yang kemudian muncul. Masalah sosial tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Kata pak ganteng dosen tersebut tadi, ketika menghadapi masalah sosial, kita tidak bisa bertindak secara instrumental, dalam artian hanya memposisikan diri di satu bidang saja tanpa melihat kebutuhan di sisi lain. Banyak aspek juga yang harus ikut diperhatikan.

Sama halnya dengan masalah BBM ini. Di satu sisi, saya sedikit paham bahwa pemerintah memang sedang dirundung masalah akibat beban APBN yang sudah semakin besar. Mungkin banyak yang bertanya terus kenapa kalo APBN terbebani begitu berat? Analoginya, anak kos yang tiap bulan dapat kiriman uang seratus ribu untuk hidup sehari-hari. Karena warung-warung makan kemudian menaikkan harganya, uang seratus ribu tidak bisa lagi cukup sementara orang tua tidak mungkin dimintain uang lagi. Solusi yang kemudian bisa diambil adalah mengurangi intensitas makan, memotong anggaran fotokopi materi ujian, mengurangi anggaran transport (dengan ke kampus jalan kaki), atau utang teman kos. Begitu juga dengan pemerintah dan APBN-nya. Perencanaan APBN hanya mampu maksimum menanggung harga minyak sebesar hingga US$100/barel. Tapi sekarang, sudah US$120/barel dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Tapi, di sisi lain, berat dan ikut sedih juga membayangkan bagaimana jadinya kehidupan rakyat nantinya. Pemerintah baru memunculkan sinyalemen kenaikan saja, harga-harga sudah naik. Bagaimana nanti jika kenaikan itu benar-benar terjadi? Rakyat akan ditimpa kenaikan harga sebanyak dua kali. Rakyat kalangan atas mungkin tidak akan terlalu menderita..atau setidaknya mereka masih akan mampu bertahan. Tapi bagaimana dengan yang kalangan bawah macam saya ini. Okelah…mereka tidak pakai BBM sehingga sebenernya BBM akan naik atau tidak peduli amat. Namun, harga BBM merupakan masalah yang krusial dan berkorelasi positif dengan harga kebutuhan pokok sehari-hari. Ketika harga BBM naik, otomatis harga kebutuhan pokok sehari-hari juga akan naik. Padahal, pendapatan yang mereka terima relatif tetap. Belum lagi, masih ada satu kalangan yang tidak boleh diabaikan, yaitu rakyat golongan menengah. Mereka tidak miskin. Tidak juga kaya. BLT gak kebagian tapi sebenernya butuh juga. Mereka bisa jadi sangat berpotensi miskin ketika terjadi inflasi besar di Indonesia. Kenaikan harga BBM pasti akan berimbas pada mereka juga.

Pemerintah mengatakan bahwa dana yang semula untuk subsidi akan dialihkan dan diberikan dalam bentuk BLT bagi rakyat miskin. Sebenarnya ini ide yang bagus. Uang kebermanfaatannya lebih tinggi dibandingkan barang. Saya juga kalo bisa milih mending dapet duit kalo pas ulang taun daripada dapet barang :lol: Tapi masalahnya, uang juga sangat mudah habis nilai ekonomisnya. Mungkin niat pemerintah memberikan BLT ini juga agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai modal usaha untuk menyambung hidup. Karena jika modal dalam bentuk barang, rakyat terfokus hanya bisa berusaha dengan barang yang terkait. Persoalannya, rakyat pada umumnya hanya berpikir bagaimana caranya agar hari ini bisa makan, bukan bagaimana caranya agar sekarang dan besok-besok tetap bisa makan. Akibatnya, uang seratus ribu untuk tiga bulan bisa jadi hanya akan habis untuk konsumsi pangan mereka. Dan akhirnya, manfaat uang hanya akan sebatas itu. Tidak bisa lebih lagi. Tidak bisa semakin memberdayakan mereka juga.

Karena dua hal yang sedikit saya pahami itulah saya memilih tidak mengambil sikap. Hal ini mungkin dianggap tidak berkepribadian, ivory tower, dan lain-lain. Tapi dalam hal ini saya memang belum bisa bantu apa-apa. Saya tidak berniat menjadi schizoid, karena ilmu saya masih sangat rendah. Saya juga tidak suka advokasi karena untuk advokasi yang sebenarnya, dibutuhkan banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Sekedar demo? ah malas…seringnya malah berujung anarki.

Kalau saya punya banyak dana, saya akan merekrut pekerja-pekerja minyak indonesia untuk kemudian mencoba menggali sumur-sumur tua siapa tau masih ada sisa-sisa minyak yang bisa diolah dan dipakai rakyat (seperti yang saya liat di tipi itu…) atau justru menemukan sumber minyak baru. Atau saya akan buka lahan pertanian yang luas dan merekrut petani setempat untuk mengolah pertanian tersebut dan hasilnya dijual dengan murah untuk rakyat dan dijual mahal untuk ekspor sehingga dana BLT dari pemerintah dapat mereka gunakan untuk modal usaha saja. Sayangnya, saya belum sekaya itu.. :lol: Oleh karenanya, saya hanya memilih pasif dan banyak berusaha dan berdoa biar penghasilan meningkat..sukur2 sampe bisa membantu kaum lain. :mrgreen:

Sedikit ide, mungkin ndak ya misal pengguna kendaraan bermotor diberi tambahan beban biaya tahunan yang harus dibayar sebagai kompensasi mereka menggunakan BBM? Atau penambahan pajak barang mewah? Atau serius dalam mengejar harta negara yang ‘dipinjam’ orang-orang itu? Atau melakukan negosiasi ulang beban bunga yang harus dibayar (seperti yang dilakukan Argentina), kemudian dananya disalurkan untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya? Hanya saja, secara teknis itu memang akan susah dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama…sementara beban apbn ini sepertinya tidak bisa menunggu lama-lama lagi :sad:

28 Comments »

  1. edy said,

    May 15, 2008 at 10:34 am

    kurangin jatah wakil rakyat, naekin pajak kendaraan, perbaiki transportasi massal, dll, dsb

    bisa juga…

  2. klikharry said,

    May 15, 2008 at 10:44 am

    keduax

    :mrgreen:

  3. ayudhia2607 said,

    May 15, 2008 at 11:00 am

    Pak ganteng?? sapa itu atu neng? bbm bener2 naik, terancam naik sepeda ke kampus.. hiks..
    btw Mari kita ciptakan, temukan, modifikasi -atau apapun lah namanya- energi alternatif!!! Berdayakan masyarakat kecil!!

    bapak antro itu…suaminya bu poppy :P
    berdayakan masyarakat kecil? lha saya besar dan ndut ik…brarti gak termasuk ya? :saD:

  4. detnot said,

    May 15, 2008 at 11:04 am

    turunkan gaji DPR !!

    merdeka! :D

  5. babeh said,

    May 15, 2008 at 12:52 pm

    sekali lagi, data untuk pembagian jatah BLT ituh tidak valid, jadi gimana mungkin keadilan akan dirasakan dari yang namanya dana BLT oleh semua yang nota bene sudah menjadi haknya….. (heu heu, bisa serius juga seh)…. kebawa suasanaaaaaa

    tanggal 20 niy mo dibagiin.,,

  6. fisha17 said,

    May 15, 2008 at 1:04 pm

    jadi duitnya pada kemana neh?

    sebenernya saya yang ambil.. :oops:

  7. oRiDo said,

    May 15, 2008 at 1:05 pm

    perhatian banget nih ama dosen nya..
    lumayan detail melaporkan hasil tatap muka nya..
    hehehehe…

    klo mnurut aku, yg terpenting adalah tidak membebani masyarakat dgn penambahan biaya, pajak, retribusi, dan lain sebagainya..
    masyarakat sudah susah, jangan dibikin susah..
    mungkin lebih baik klo dilakukan pembatasan kendaraan yang menggunakan BBM bersubsidi..

    perhatian donk…dah bayar kuliah mahal-mahal je.. :lol:

  8. Zulmasri said,

    May 15, 2008 at 2:11 pm

    baik sby maupun jk berkilah dan mengatakan kalau bbm tidak dinaikkan, yang untung adalah mereka yang berduit, yang seharusnya membeli bbm non subsidi. nah, kok gara-gara mereka yang berduit dan membeli bbm bersubsidi rakyat lain harus menanggung? mengapa tidak diambil dari mereka yang berduit (dan tidak dapat subsidi harusnya) duitnya?

    saya juga puyeng, pak… :roll:

  9. JoEy D`JuVe said,

    May 15, 2008 at 2:27 pm

    Wew… Ceyem hidup makin cucah !!!

    siap2 susu bayi mahal, mas… :mrgreen:

  10. bangzenk said,

    May 15, 2008 at 2:54 pm

    mungkin ndak ya misal pengguna kendaraan bermotor diberi tambahan beban biaya tahunan yang harus dibayar sebagai kompensasi mereka menggunakan BBM?

    mungkin sekali mbak, akan tetapi yang make BBM ada supir angkot juga, dll. masyarakat kita belum siap juga diberlakukan pajak yang tinggi.

    toh pajak yang sudah ada sekarang juga banyak diakali. inilah realitas bangsa kita. oleh karenanya kita harus jadi bagian dari solusi. hemat energi!!! selamatkan negeri!!

    salamhangat
    bangkit negeriku, harapan itu masih ada!!

    berarti emang semua perubahan musti dimulai dari diri sendiri yak.. :D

  11. ridu said,

    May 15, 2008 at 3:06 pm

    well, emang bener tuh, yang namanya mimpi buruk aja udah serem, apalagi kalo mimpi buruknya itu berubah jadi kenyataan.. menjelang bbm naek, rakyat udah dibikin susah, apalagi ketika direalisasikan, tambah kecekek deh

    kira2 angka kematian pasca kenaikan bbm bakalan meningkat gak yah??

    *mencoba mengaitkan dgn uts yg take home itu :roll:

    belum ketemu juga orang meninggalnya? :mrgreen:

  12. jiwakelana said,

    May 15, 2008 at 4:53 pm

    menanggulangi beban apbn tidak mesti dari bbm to.., naikin aja tuh distribusi pajak terhadap pengusaha, tapi harus transprans jangan kebanyakan masuk kantong petugasnya… dan lagi pengusaha nakal harus berani ditindak tegas.

    dr bbm karena dianggap kurang produktif mengalokasikan terlalu banyak subsidi di sana. malah konon, idealnya, tidak perlu ada subsidi bbm…agar masyarakat juga terpacu hemat energi

  13. Jiban said,

    May 15, 2008 at 4:56 pm

    wah…. saya nggak ikut2an ah… bukan orang ekonomi.. :(

    saya yo bukan… :lol:

  14. theloebizz said,

    May 15, 2008 at 5:15 pm

    HEEELLLPPP…..
    butuh subsidiiiiih!!! hehehe….

    yg berkepentingan jgn langsung cuci tangan!
    tanggung jwb dunk ;)

    hayoo…siapa yang berbuat pada mbak fini??
    dimintain tanggung jawab tuh.. :lol:

  15. natazya said,

    May 15, 2008 at 5:29 pm

    saya ga pernah ngerti ujung ujungnya musti gimana kalo soal bbm…

    hm…

    belajar ngirit sendiri dulu aja deh!

    okeh bu! :D

    sepakat, mbak! :mrgreen:

  16. Gyl said,

    May 15, 2008 at 8:01 pm

    Wakz… gak ngerti ekonomi aq :|

    Intinya kalo gak ada tindakan revolusi, BBM masih akan naik… Pemerintah udah terbiasa sama demo penolakan sich..

    hoo…kamu ikut demo di unair pas kapan itu ya? :roll:

  17. ichanx said,

    May 15, 2008 at 9:30 pm

    nasionalisasi perusahaan asing terutama yang bergerak di industri minyak!! hehe… dijamin pemerintah gak akan punya nyali

    nyali punya…duitnya? :D

  18. zoel chaniago said,

    May 15, 2008 at 9:44 pm

    naik aja terusss… tar kalau dah tinggi mana tau bisa jatohh :D

    haha…setinggi-tingginya tupai melompat pasti akan jatoh juga ya?
    bener juga tuh
    mari kita berdoa si tupai aka bbm segera jatoh :lol:

  19. masmoemet said,

    May 15, 2008 at 11:24 pm

    ” Analoginya, anak kos yang tiap bulan dapat kiriman uang seratus ribu untuk hidup sehari-hari. Karena warung-warung makan kemudian menaikkan harganya, uang seratus ribu tidak bisa lagi cukup sementara orang tua tidak mungkin dimintain uang lagi. ”

    kek gw dl :(

    loh…menyan kan tinggal minta bisa tho? ndak usah beli… :roll:

  20. arda86 said,

    May 16, 2008 at 1:04 am

    dukung Indonesia di Thomas dan Uber……..
    loh bukan lagi bahas ini ya ??? :mrgreen:

    mas..mas…ilernya dilap dulu tuh.. :lol:

  21. arda86 said,

    May 16, 2008 at 1:54 am

    mari kita galakkan nebeng.com….!!!
    latih diri dan orang2 terdekat anda untuk nebeng.com :mrgreen:

    orang2 terdekat mustinya dilatih untuk menjadi pemberi tebengan.com donk.. :D

  22. heddy said,

    May 16, 2008 at 5:53 am

    horeeeeeeee…BBM naik BBM kosong di pombensin… horeeeeeee…. (asem,honor tetep,bbm naik, yang lain pasti ngekor..mau jadi apa dunia ini…kelaut aja..)

    ngapain mas ke laut? :mrgreen:

  23. BanNyu said,

    May 16, 2008 at 7:31 am

    Saya sudah nyetok bensin 50 liter di rumah he he he …

    pak pulisi…ada yang nimbun bebe-em niy… :mrgreen:

  24. elmo said,

    May 16, 2008 at 8:11 am

    *sigh..kapan indo bisa bebas dari masalah kayak begini ni..

    besok kalo saya jadi presidennya :lol:

  25. hanggadamai said,

    May 16, 2008 at 1:34 pm

    pak ganteng kan diriku :mrgreen:
    *00t mode 0n*

    *nyiapin kresek item
    *buat pembaca yang akan muntah

  26. siHarri said,

    May 16, 2008 at 8:52 pm

    siap2 bawa rantang lagi dari rumah :D

    ngapain bawa2 rantang dari rumah?
    bawa makan aja to, mas…
    rantang kosong kok dibawa-bawa :D

  27. achoey sang khilaf said,

    May 21, 2008 at 9:45 am

    tolak kenaikkan BBM!

    ah… :sad:

  28. antro said,

    July 15, 2008 at 9:08 am

    yah BBM emang naik lagi
    dan mngkin akan naik terus,
    untung ada pilpres, stidaknya akan diundur kenaikannya
    amoe pilpres

    tp tetap semangat ya….

Leave a Comment