Perlukah Indonesia Keluar dari OPEC?

Saya ingat sejak SD dulu, guru-guru saya mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara anggota OPEC dan bahkan menjadi penyuplai minyak yang cukup diperhitungkan. Saya pun bangga karenanya. Empat puluh enam tahun sejak Indonesia bergabung dengan OPEC, yaitu tahun ini, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro kemudian mengungkapkan bahwa Indonesia positif akan segera mengundurkan diri dari OPEC. Menurut beliau, Indonesia sudah bukan lagi negara pengekspor minyak. Dan keputusan inipun sudah melalui sidang kabinet.

Sebenarnya isu akan keluarnya Indonesia dari kelompok negara pengekspor minyak itu sudah muncul sejak lama (tahun 2003, CMIIW). Entah mengapa isu tersebut baru akan terealisasi tahun ini.

Indonesia memang sudah tidak menjadi negara pengekspor minyak lagi. Dengan kapasitas produksi minyak mentah yang tidak mencapai satu juta barel per hari serta konsumsi BBM rata-rata 1,5 juta barel per hari, Indonesia sejak tahun 2000 sudah terus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat. Menurut BusinessWeek (http://www.businessweek.com/magazine/content/05_27/b3941066.htm), sejak 16 tahun terakhir, produksi minyak Indonesia telah mengalami penurunan 1.5% per tahun, sementara konsumsinya terus meningkat 5.4% per tahun.

Beberapa pihak menyetujui rencana pemerintah ini, namun beberapa yang lain menolaknya (http://motor-indonesia.blogspot.com/2008/05/usulan-indonesia-keluar-dari-opec.html). Pihak yang setuju beralasan bahwa dengan Indonesia keluar dari OPEC, bisa menghemat dana sekitar 3,1 juta dollar AS per tahun dari iuran keanggotaan OPEC. Di samping itu, sedikit sekali manfaat yang dapat dinikmati Indonesia dengan tetap menjadi anggota organisasi tersebut. Memang, dengan menjadi anggota OPEC, Indonesia dapat membeli minyak ke sesama anggota OPEC dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, OPEC saat inipun sudah tidak mampu mengendalikan harga minyak dunia.

OPEC memiliki kebijakan mengatur kuota produksi minyak negara anggotanya. Dari sinilah, harga minyak itu hendak ia kendalikan. Meski sebenarnya OPEC hanya menguasai 40% dari seluruh minyak dunia, hal tersebut sangat manjur diterapkan dan harga pun benar-benar dapat dikendalikan. Namun, sejak tahun 2000, kebijakan ini sudah tidak relevan lagi. Tahun 2001, misalnya, sekalipun kuota produksi digenjot sedemikian rupa, harga minyak relatif tidak terpengaruh. Hal ini disebabkan oleh kebijakan yang diberlakukan negara pengekspor minyak non OPEC. Mereka, ketika harga minyak naik, produksi ditingkatkan dan ketika harga turun, kuota produksi justru tidak diturunkan. Tentu hal ini justru merugikan negara anggota OPEC sendiri.

Kebijakan kuota produksi yang diterapkan OPEC juga sedikit banyak merugikan Indonesia. Pasalnya, kuota yang diterapkan dipukul rata pada semua negara anggota. Indonesia dengan kapasitas produksi yang jauh lebih sedikit dan jumlah penduduk yang sangat banyak memiliki jatah produksi yang sama dengan negara lain yang kapasitas produksinya lebih besar sementara penduduknya relatif tidak banyak. Jika tidak keluar dari OPEC, misal Indonesia berniat mengeksplorasi wilayah baru untuk menambah produksi, nantinya akan terbentur masalah kuota yang ditetapkan organisasi tersebut. Maka, terpaksa Indonesia mengimpor minyak lagi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara jika tidak lagi menjadi anggota, Indonesia akan lebih bebas menambah jumlah produksinya.

Muncul kekhawatiran bila Indonesia dari OPEC akan mengganggu stabilitas pasokan minyak dalam negeri. Jika sebelumnya Indonesia akan mendapat prioritas untuk memperoleh minyak dari sesama anggota OPEC, setelah keluar Indonesia diperkirakan tidak lagi mendapat prioritas tersebut. Sementara negara-negara pengekspor lainnya mungkin akan sedikit menahan ekspor minyaknya untuk kebutuhan dalam negerinya sendiri.

Selain itu, peran Indonesia di kancah dunia internasional juga akan berkurang seiring pengunduran diri dari OPEC ini. Bukan tidak mungkin hal ini akan membuat Indonesia semakin tidak terdengar lagi di mata dunia.

Sekalipun beberapa pihak menilai kenaikan harga minyak yang cukup signifikan ini merupakan dampak subprime mortgage AS, menurunnya kurs dollar AS (menurut Chakib Khelil, Presiden OPEC, setiap nilai tukar dolar AS anjlok 1 persen, harga minyak naik US$ 4 per barel, demikian pula sebaliknya), ulah para spekulan, kepanikan akan minimnya pasokan minyak di masa mendatang, dan politik global yang cenderung tidak aman, lain halnya dengan Sekjen OPEC, Abdalla Salem El-Badri yang menyebut pasokan minyak dunia tidak mengalami kekurangan.

Apapun itu, sah-sah saja pemerintah keluar dari OPEC, dengan catatan:
1. Pasokan minyak untuk kebutuhan dalam negeri dapat dipastikan tetap aman
Hal ini dapat dicapai dengan cara menjalin hubungan baik dengan negara-negara pengekspor minyak, baik itu OPEC maupun non OPEC. Urusan kita akan dipermudah bila kita sudah kenal baik dengan pihak yang berkepentingan :)
2. Indonesia benar-benar memanfaatkan ‘kebebasannya’ ini dengan cara memaksimalkan usaha penemuan sumber minyak baru
Cara ini cukup sulit dilakukan mengingat untuk mendapatkan sumber baru dibutuhkan dana yang sangat tidak sedikit. Oleh karena itu diperlukan investor yang mau mendanai. Akan tetapi, sekalipun Indonesia sangat berpotensi masih memiliki sumber minyak baru, investor tetap akan memperhitungkan kondisi politik dan keamanan makro. Padahal seperti kita lihat saat ini, demo marak di mana-mana. Anarki datang tiap hari.
3. Memperbaiki sistem kerja khususnya dalam bidang pertambangan
Hal ini mudah diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Untuk memperbaiki sistem manajemen pada sebuah organisasi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi jika ada banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Tapi, mungkin ini saatnya kita menunjukkan pada bumi Indonesia bahwa kita memang mencintai negeri ini sehingga demi Indonesia yang lebih baik, apa yang tidak kita lakukan? :lol:
4. Berusaha mengurangi ketergantungan terhadap minyak
Dengan sumber-sumber energi alternatif, misalnya. :mrgreen:

60 comments so far

  1. Jiban on

    sebelum baca, kasih pertamax dulu…

  2. nenyok on

    Salam
    Setuju tuh dengan catatn2nya, intinya kebijakan apapun harapannya bisa lebih mihak rakyat :)

  3. ika on

    btw,saya tertarik ma berita di tipi: memanfaatkan tahi sapi sebagai bahan bakar..hehehe

  4. Jiban on

    wah benar-benar orang ekonomi sejati…

  5. Jiban on

    @ika
    kirain sebagai bahan makanan wakakakka

  6. alfaroby on

    nah itu dia….. yang terakhi yang aku suka
    Berusaha mengurangi ketergantungan terhadap minyak Dengan cara mencari sumber-sumber energi alternatif….
    bukannya aku sok jago fisika atau lulusan teknik… aku sendiri yang bodoh ini sebenarnya sangat jengkel dengan tidak dibangunnya Pemangkit Listrik Tenaga Nuklir… dan alasannya malahan ditunggangi oleh urusan politik lah.. urusan kekuasanaan lah… dan bahkan sampai urusan duit….
    padahal sebenarnya…. PLTN adalah pembangkit listrik yang terjamian aman… jika diawasi secara maksimal dan baik… tetapi apa coba…..

    kan yang repot pemerintah sendiri…

    NB: maaf kalau kritikan saya ini “sok menggurui”

  7. masmoemet on

    nek jek do korupsi yo podo ae. kapan makmure ? :roll:

  8. almascatie on

    kalo selama ini ga menguntungkan bangsa.. cuman begitu2 doang yah mendngan keluar aja …
    *dukung indo keluar dari OPEC*
    :mrgreen:

  9. Wawan on

    Mengapa bangsa kita merasa tidak diuntungkan dengan menjadi anggota OPEC selama ini, mungkin kelakuan dari oknum bangsa ini yang membuat kedudukan bangsa kita di dalam OPEC menjadi serasa gak bermanfaat. Intinya bangsa ini perlu introspeksi diri dulu deh. :smile:

  10. Alex on

    masalahnya bukan keluar atau tidak, tapi lebih kepada pengelolaan migas ditanah air. selama ini negara ini sudah salah urus terhadp semua hasil tambang.

    hasil tambang itu hanya dinikmati oleh segelintir pejabat, birokrat, aparat dan konglomerat. lihatlah tambang emas di papua….apa yg didapat oleh rakyat papua…begitu juga migas di aceh…dan riau.??????????????

    oiya thanks ya mbak uda komen balik di blogku
    sy link ya

  11. arifrahmanlubis on

    assalamualaikum

    mantab mbak.

    berbicara di tataran solusi :)

  12. indra1082 on

    UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT
    seharusnya bukan cuma wacana
    tapi di BUKTI kan!!!

  13. GiE on

    Lebih baik Indonesia keluar saja dari OPEC. Mending duit jutaan dolar yang menggelontor masuk ke kas OPEC itu di kasih aja daah buat kepentingan rakyat.

    Lebih afdol dan tepat sasaran, betul? ;)

  14. ayahshiva on

    hmmm….
    postingan yang menarik, walau tidak sepenuhnya paham.
    tapi menurut aku yang gak kalah penting adalah, mental para pejabat dulu yang di perbaiki, jgn hanya memikirikan kepentingan sendiri

  15. Rindu on

    Keluar saja, kita dibodohi oleh OPEC :) [kata saya]

  16. tehaha on

    katanya,
    indonesia akan masuk OPEC 5 tahun lagi..
    setelah produksi melebih konsumsi dalam negeri..
    entahlah, hanya beliau-beliau yang lebih tahu..
    hanya berharap semuanya bisa lebih baik..!!!

  17. edratna on

    Saat awal menjadi anggota OPEC, produksi minyak Indonesia masih melebihi dibanding penggunaannya, lha sekarang memang produksi yang ada sudah tak memenuhi. Padahal OPEC adalah organisasi pengexpor minyak…sedangkan Indonesia sudah berubah menjadi negara pengimpor (Kompas, 29 Mei 2008)

  18. citra on

    Buat nyukupin kebutuhan dalam negri aja masih kurang koq mau bantu nyuplai buat negara laen…
    Emang mending kluar aja…
    :D

  19. sawali tuhusetya on

    syukurlah kalau pemerintah telah memutuskan utk keluar dari anggota APEC, sebab menurut pandangan awam saya, selama menjadi anggota OPEC tak ada nilai tambah buat bangsa. harga minyak selalu saja tak bisa dikontrol hingga rakyat yang harus menanggung bebannya.

  20. alle on

    prestise mungkin :mrgreen:

  21. galih on

    perlu dong kayanya dibentuk manajemen penaanggulangan minyak di indonesia, yang pertama kpilih pasti luumpuurr lapindo deh kayanya..

  22. cempluk on

    bener nih, negeri kita malah import minyak utk menyuplai kebutuhan bbm dalam negeri..sunguh dilema sekali…

  23. tintin on

    good .. tulisannya bagus dan kritis .. :)

  24. Abeeayang™ on

    pikirin matang2 dolo….. :P

  25. Menik on

    memangnya OPEC bisa nurunin harga BBM kita sekarang ??? ndak tho ??? :roll:

    yo wis…

    yang terbaik harus dilakukan :)

  26. JoEy D`JuVe on

    Oooo… indonesia ituh anggota OPEC tochh… *tampang lugu*

  27. langitjiwa on

    setuju,indonesia keluar dari OPEC

  28. achoey sang khilaf on

    wah bagus nih postingannya

    ya mending Opick aja deh :D

  29. natazya on

    perlu…

    indonesia ga pantas buat jadi eksporter minyak

    *buat sekarang

  30. sungai on

    mungkin perlu, mungkin juga tidak. jadi tergantung. hehe

  31. zoel chaniago on

    keluar,, tar masuk lagi :lol: jangam sampe kek githu aja

  32. crizosaiii on

    kalo udah jadi negara pengimpor, ya mending keluar aja dari OPEC.
    kepanjangan dari OPEC kan, Organization of the Petroleum Exporting Countries alias organisasi negara-negara pengekspor minyak..

  33. ichanx on

    sebenernya ya… gak peduli tetep di OPEC atau keluar OPEC, asal pemerintah ada niat, masalah bisa beres atau minimal ditekan signifikan. Coba tuh perbaruin kontrak kerja perusahaan2 asing… gak usah ekstrim kayak venezuela… cukup normal aja sebagaimana layaknya negara berdaulat… :)

  34. irrrr on

    ooww, jadi gitu yah alesannya knapa indonesia masih impor minyak juga.

    ic ic.

  35. namakuananda on

    Keluar aja deh. Kalo di OPEC cuma buat UUD aja untuk segelintir orang.

    salam :-)

  36. Gyl on

    Yang penting manfaat dan kerugiannya benar-benar ditimbang. Yang ahli lebih tau dech :)

    Kalo keluar masuk lagi… gpp kan. Indonesia pernah keluar dari PBB masuk lagi..

  37. Labyrinth Silversky on

    Lama2 game frontline:fuel of war bisa jadi kenyataan ya…

    Negara2 perang cuma buat rebutan bahan bakar

  38. Labyrinth™ on

    Lama2 game frontline:fuel of war bisa jadi kenyataan ya…

    Negara2 perang cuma buat berebut bahan bakar

  39. Yoga on

    Kenapa harga minyak melambung? Kenapa ada skenario “penggerebekan” Iran oleh US? Tanya Kenapa? Tanyakan sama texasman inside the US govt..

    Btw, sambil terburu-buru tadi pagi saya sempat baca judul artikel di Kompas;- Indonesia akan masuk OPEC kembali 2013… Hmmm jadi penasaran baca isinya.

  40. hamsin on

    slam kenal yoi indonesia dari dulu gak ad habisnya masalah

  41. Daniel Mahendra on

    Analisanya menarik. Cermat!

  42. Aryo Bandoro on

    Menurut aturan tidak ada keharusan untuk menjadi anggota OPEC, jika memang bermanfaat secara ekonomi dan politik maka kenapa harus keluar, tetapi sepanjang lebih banyak dampak negatif dari pada positif maka lebih baik keluar.

  43. ridu on

    lambang opec keren banget yah.. artistik abis..

    selain itu juga nasionalisasi perusahaan asing yg ada di indonesia tuh.. mereka kan cuma numpang ngeruk hasil tambang kita

  44. ghaniarasyid™ on

    ndak usah deh.
    susah kalo keluar.
    suara Indonesia nggak akan terdengar dari seberang dunia :(

  45. Yari NK on

    Kalau begitu Indonesia bikin OPIC aja deh…. ( Organisation of Petroleum Importing Countries)…. jadi lebih cocok dengan keadaan Indonesia zaman sekarang! Wakakakakak….. :lol:

  46. Raffaell on

    Mau keluar mau gak, gak penting, kalo keluar rakyat jadi makmur ya sok aja.

  47. tony on

    saya masih setuju dengan pak Kwik soal kebijakan penguasaan minyak dinegeri ini.

  48. kakanda on

    Sepertinya telah terjadi salah urus,
    kepentingan masyarakat banyak telah dikorbankan :(

    masalahnya bukan pada keluar atau tidak dari OPEC

  49. yakhanu on

    kalo saya kurang tau politik mbak…maaf ya….

  50. khofia on

    dengan kondisi perminyakan yang luar biadan kayaq gini, akan sangat memalukan sekali bila indon tidak keluar dari OPEC. lagian minyak apanya yang mau diekspor? minyak jelantrah?
    ngurus harga dan distribusi minyak dalam negri aja ndak bisa, ngapain masih ikutan OPEC?! itu mah ndak tauk diri!

    oh, iya… saya mau nunut beroral.. eh, orasi di sini:
    TURUNKAN HARGA BBM! TURUNKAN HARGA SEMBAKO!! TURUNKAN LAGI HARGA KOMIK!! *mosok kemaren beli komik BECK harganya dah naek?! benci akuu!!!*

  51. jiwakelana on

    pernyataan men esdm bener.., Indonesia bukan lagi pengeksport minyak karena 99% ladang minyak Indonesia sudah dikuasa Asing.

  52. RhyzQ on

    saya setuju aja asal Indonesia bisa maju. :)

  53. cinker on

    saya sich setuju2 ajach…..!
    dari pada penghasil minyak tapi indonesia tetap ajach bli minyak ke rumah org….!
    mending minyak yang ada di olah sendiri trus di pasarkan buat masyarakat dengan harga yang terjangkau….!

  54. wennyaulia on

    komen di blog sendiri lagi ah.. :lol:

  55. wennyaulia on

    wah…kok potone gak keluar??? :twisted:

  56. hanggadamai on

    hemat hemat hemat….

  57. aurelia claresta u on

    Tony Prasetyantono di kelas Makro terakhir (30 Mei 2008)
    juga mengatakan hal yang sama:
    “KELUAR DARI OPEC……….. & masuk OECD (Organization for Economic Cooperation & Development)”

  58. andi on

    bener! keluar dari OPEC…

    http://motor-indonesia.blogspot.com –> Goodbye OPEC!
    Negara-negara OPEC sekarang ini sedang menikmati kenaikan harga minyak mentah dunia, sehingga mereka cenderung menjaga produksi untuk mempertahankan harga tidak turun. Dan Indonesia juga tidak banyak merasakan “khasiat” sebagai anggota OPEC, malahan harus membayar iuran yang cukup tinggi.

    Untuk kenaikan BBM, generasi sekarang harus bisa berkorban. Yang pasti masyarakat harus optimis, jangan ada orang yang mengejek negeri ini !

    Yeah… Goodbye OPEC, we don’t need you !

  59. lee on

    Goodbye OPEC, we dont need you!
    http://motor-indonesia.blogspot.com/

  60. masenchipz on

    perluuuuu… tpi kita bsa kayak venezuela ga ya… BBMnya bisa 100rupiah per liter…. wakakakak… ga mungkin kaleee ya….


Leave a reply